Integrasikan Pangadereng dalam Pendidikan, PGSD UNCP Gelar Kuliah Budaya di Istana Luwu
UNCP.AC.ID, PALOPO - 23 Juli 2026. Di dalam sumange’ Lalebbata (Istana Langkanae Luwu), mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) berkumpul melaksanakan kuliah budaya.
Kuliah Budaya ini merupakan kokurikuler matakuliah Etika dan Karakter Tana Luwu. Mengusung tema besar “Merajut Peradaban dalam Bingkai Pangadereng”. Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan lapangan, melainkan sebuah upaya akademis untuk menelusuri akar kearifan lokal sebagai fondasi pendidikan karakter.
Dalam gelaran kuliah budaya ini, Hadir Opu Cenning Luwu yang memberikan penguatan kepada mahasiswa, dan hadir pula narasumber Andi Sulolipu Sulthani mengajak mahasiswa menyelami kedalaman nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi identitas dan kearifan lokal masyarakat di Tana Luwu.

Ketua Prodi PGSD, Iin Dwi Aristy Putri, S.KM., M.Kes, mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, kuliah budaya ini adalah wujud komitmen prodi untuk mencetak guru-guru profesional yang berkarakter dan berbudaya.
Kegiatan didampingi oleh Andi Kilawati sebagai dosen pengampu mata kuliah Etika, dan Karakter Tana Luwu.
"Kuliah budaya ini adalah upaya PGSD UNCP membangun peradaban dalam bingkai pangadereng. Kearifan lokal harus dibumikan secara berkelanjutan sebagai identitas lokal dan kompas arah agar kita tidak kehilangan jati diri di tengah pusaran arus globalisasi. ujar Andi Kilawati

Kehadiran mahasiswa dari empat kelas B, C, D, dan E, membawa warna tersendiri. Tidak hanya hadir sebagai peserta, setiap kelas mengusung slogan lokal yang menjadi manifesto semangat dan identitas mereka.
Kelas 4B dengan slogan “Sipakatau”: Mengusung filosofi saling menghormati dan memanusiakan manusia. Kelas ini menekankan bahwa pendidikan adalah tentang empati dan hubungan antar-sesama.
Kelas 4C dengan slogan “Mabbulo Sibatang”: Simbol kebersamaan dan kekuatan yang tumbuh dari akar yang sama. Mereka hadir untuk menunjukkan solidaritas yang tak terpisahkan.
Kelas 4D dengan slogan “Taro ada taro Gau”: Sebuah komitmen integritas; bahwa apa yang diucapkan harus selaras dengan perbuatan. Ini adalah ruh bagi calon guru untuk menjadi teladan.
Kelas 4E dengan slogan “MassEddi”: Bermakna "Satu" atau bersatu padu. Menandakan bahwa dalam keberagaman pemikiran, mereka tetap satu tujuan memajukan pendidikan.
Kegiatan diakhiri dengan sesi diskusi dan penelusuran artefak sejarah di dalam istana, meninggalkan kesan mendalam bagi para mahasiswa. Mereka pulang tidak hanya membawa catatan sejarah, tetapi juga "benih" peradaban yang kelak akan mereka semai di sekolah-sekolah dasar tempat mereka mengabdi.